Jul 16, 2010

Haru Rindu untuk Ayah Ibuku..

“...tak ada yang membuat orang tua bahagia selain kebahagiaan dari buah hati mereka..”




Percaya atau tidak, kata – kata diatas adalah sebagaian dari spirit perjalanan hidupku hingga kini.. Aku harus bahagia, dan membahagiakan orang tuaku..




Pernah gak kamu sadar kalau waktu berputar kian cepatnya hingga kita akan cepat melupakan dingginnya embun pagi dan pekatnya senja? Perlahan kita akan menjelajah hidup kita sendiri diatas kemampuan yang telah kita bangun sedari kita mulai mengenal dunia. Akan ada jarak terbentang antara kita dan keluarga kita, antara kita dan orang tua kita, antara kita dan kakak adik kita. Kalau aku, “TIDAK”.. aku tak pernah sadar akan hal itu,hingga pada akhirnya suatu kejadian menyadarkanku..




Kala itu,beberapa minggu yang lalu..di sebuah toko buku, sepasang orang tua sedang memilihkan peralatan sekolah untuk anaknya..




Anak : Mah, ak mau pensil yang ini yah (sambil menunjukkan sebuah pensil)


Ibu : (mengamati pensil yang di pilih) Jangan sayang, jangan yang ini. (mengambil pensil yang lain,kelihatannya lebih mahal harganya) Udah,yang ini aja yah.. (memberikan ke sang anak)


Anak : Tapi mah, ini kan lebih mahal. Emang gak papa yah?


Ibu : iya, gak papa. Kan yang penting enak dibuat nulis. Daripada yang tadi gampang rapuh ujungnya..


Bapak : iya gak papa,yang bagus sekalian,daripada rusak waktu dipakai. Nih juga udah papa cariin buku tulis ma sampulnya, ntar papa sampul di rumah, besok bisa dipakai ke sekolah.




Gosh, singkatnya perbincangan di depan mataku itu dengan hebatnya membangunkan alam bawah sadarku, ‘orangtua akan selalu memberikan apa yang terbaik untuk anaknya,apapun resikonya’ . Dari penampilan nya, kedua orang tua tersebut bukanlah dari kalangan yang serba ada,bahkan ketika tidak sengaja aku bertemu di kasir, sang bapak tengah mengeluarkan lembaran rupiah terakhir dari dompetnya untuk membayar belanjaan sang anak.. Itulah kehebatan orang tua. Rela memberikan apapun demi sang anak.. Dan aku teringat akan orang tuaku, akan apa yang telah mereka lakukan dan berikan untukku.




Setelahnya, sepulangnya dari toko itu, sesampainya aku di rumah, langsung kuhempaskan semua rinduku pada orang tuaku, pada sebingkai foto mereka di tanganku.. Tuhan, berapa lama aku hidup mandiri tanpa mereka disisiku? Sudah berapa lama aku terbiasa memegang kendali akan hidupku tanpa kuasa mereka? Aku ingin kembali menjadi anak di toko itu. Yang segala sesuatunya masih dipilihkan oleh ayahku, yang segala sesuatunya masih dipersiapkan oleh bundaku. Inginku kembali di tengah – tengah ayah dan ibuku.




Ayahku bukanlah seorang pengangguran, dan juga bukanlah seorang pejabat, namun beliau adalah seorang pekerja keras. Setiap harinya dihabiskan dengan tumpukan kontrak kerja, rapat di kantor sana sini, dan jarang ada di rumah dalam waktu lama. Dan aku tau, itu semua untuk kebutuhan keluargaku, kebutuhanku juga. Ayahku bertampang serius, cenderung keras dan jarang tersenyum, namun dibaliknya aku tau, telah tersimpan sebuah kasih sayang yang teramat untuk orang yang dikasihinya.
Dulu, sewaktu sekolah, di jaman tahun ajaran baru, ketika aku kakak dan adikku selesai belanja peralatan sekolah, kami selalu mengumpulkan hasil belanjaan kami di ruang kerja ayahku,terutama buku tulis dan buku pelajaran. Kami selalu meminta ayah untuk menyampulnya walaupun kami tahu beliau sedang sangat sibuk dengan kertas kerjanya malam itu. Akupun sempat berulang kali meminta mengingatkan ayah untuk itu,namun dengan dingin hanya kata “iya” yang terucap dari bibir ayah. Sempat kecewa sih,tetapi sebangunnya dari tidur rasa kecewa itu tergantikan kecerian dengan tertumpuknya buku – buku bersampul di meja belajar kami masing – masing.




Ayahku bukanlah tipe orang yang mampu menjelaskan perasaannya secara gamblang. Ketika aku berada dalam kenakalan masa remajaku, beliau memang sempat marah, dan waktu itu aku sangat takut dibuatnya,namun lama kelamaan suasana diantara kami mulai membaik tanpa ada penjelasan panjang lebar dan aku tau saat itu ayah telah memaafkan kesalahanku. Begitu pula ketika aku membawa berita kesuksesan ke hadapan nya, ayah hanya bilang ‘ya teruskan, tingkatkan sukses itu’, namun belakangan aku tahu kalau ayah menceritakan segala suksesku ke setiap orang yang yang ditemuinya dengan bangganya.




Banyak hal yang mungkin tak bisa diungkap dengan kata – kata oleh ayahku untuk menunjukkan bahwa beliau sangat menyanyangiku. Mungkin hanya dengan memberikan apa yang kubutuhkan, memperingatiku tentang segala macam bahaya, dan beberapa hal diatas itulah beliau menunjukkan sayangnya. Begitu pula dengan ibuku.




Ibuku juga bukanlah seorang ibu rumah tangga yang selalu siap sedia di rumah. Ibuku jugalah seorang pekerja,namun tidak sesibuk ayahku. Ibu masih sempat menjalankan fungsinya sebagai pengatur rumah tangga dengan segala rutinitasnya. Ibu masih akan sempat memasak masakan favorit keluarga di waktu tenggangnya.




Ibuku adalah wanita yang hebat. Darinya aku belajar tentang keteguhan hidup, tentang bagaimana mencintai secara tulus. Takkan akan pernah kulupa air mata yang menetes dari pelupuk matanya ketika beberapa kali aku terbaring lemah karena sakitku. Beliau selalu berkata, ‘biar mamy aja yang sakit nak,jangan kamu’. Segala macam cara dan obat akan beliau usahakan untuk kesembuhanku. Itulah mengapa ketika aku sakit hanya ibuku yang bisa menyembuhkannya.




Ibuku adalah tipe wanita yang cerewet. Hampir segala macam hal tak pernah luput dari penglihatannya. Namun aku tau, itu semua adalah wujud dari perhatiannya kepadaku, kepada buah hatinya. Hanya segala macam hal yang terbaik yang diberikan oleh ibu kepadaku,namun terkadang aku kurang menyukainya hingga mungkin sempat ku membangkang. Namun lagi – lagi aku sadar belakangan kalau aku salah telah melakukan itu, karena semua yang telah dipilihkan oleh ibuku itu selalu benar.
Bagiku, ibu adalah mesin peramal yang sangat handal. Beliau selalu tau aku sedang apa dan kebohongan apa yang terjadi padaku. Hubungan batin kami sangat kuat. Maka dari itu,aku tidak pernah berbohong kepadanya. Segala macam hal selalu kuceritakan padanya. Kalau mau tanyakan tentangku, bertanyalah padanya. Semuanya akan terjawab secara benar dari bibir ibuku.




Ayah dan ibuku adalah organ terpenting dalam perjalanan hidupku. Karena merekalah aku bisa mendapatkan pendidikan yang layak, penghidupan yang cukup dan budi luhur yang terdidik. Mereka lah sosok orangtua yang berhasil mengantarkan ku ke gerbang kesuksesan hingga kini, hingga ku tempuh pendidikan kuliahku. Segala macam hal yang mereka lakukan bagaikan batu safir di dalam kawah gunung berapi,takkan pernah tergantikan oleh apapun.




Begitu banyak hal berarti yang baru kusadari tentang arti hadir orang tua dalam hidupku. Tanpa mereka aku hanyalah makhluk tak bernyawa yang mungkin tak bisa mendapat kehidupan yang layak. Kalian akan baru menyadarinya ketika saat sepi kalian butuh teman mengobrol tentang masa depan, kalian butuh sentuhan hangat di saat sakit dan kalian butuh nasehat bijak di tengah masalah sulit.




Walau bagaimanapun mereka bersikap kepada kita, percayalah semua itu mereka lakukan untuk yang terbaik bagi kita. Mungkin terasa salah bagi ego kita, namun ketika kita mencoba memandangnya dari sisi bijak, kita akan mulai mengerti bagaimana mereka mencintai kita. Sampaikanlah bahwa kita juga sangat mencintai mereka sebelum semua iu menjdi sebuah penyesalan. Segala macam duka kita adalah tangis mereka dan segala macam bahagia kita adalah kebahagian untuk mereka..


Mom..Dad..I miss you so badly.. :(