Cerita November
-Liony Mayestica-
“Life is full of beauty. Notice it. Notice the bumble bee, the small child, and the smiling faces. Smell the rain, and feel the wind. Live your life to the fullest potential, and fight for your dreams.” -Ashley Smith-
Awal November 2011
Sebuah Kesejukan..
Awal bulan yang menyejukkan. Kemarau lambat laun terusir dan terganti oleh hujan. Hati yang tenang dan damai kembali datang walaupun kesehatan kembali dipertaruhkan. Hey, kedamaian ini yang kucari. Apalagi setelah kau datang kembali. Setelah sekian lama hidupku kering kerontang menerpa cobaan, aku bisa melihat lautku, aku seakan menemukan sandaran rinduku. Dengan datangnya kamu.
Hariku berjalan dengan cinta. Aku dan kamu saling menuai benih kasih dan kita terjebak dalam asmara yang lebih dan lebih. Aku tak mau melepaskanmu lagi, aku tidak akan pernah merelakanmu untuk pergi. Dan kamu menjanjikan yang sama dengan hati. Aku pun tersenyum penuh arti.
Yang Luar Biasa..
Denganmu saja aku sudah bahagia. Namun jutaan kebahagiaan lain menyerbu dan menyerangku bertubi – tubi di November ini. Sesuatu yang tidak kukira dan kusangka yang hanya bisa kuraba dalam rasa, kini bisa datang dalam genggamanku. Tawaran dan kesempatan dalam jalan kesuksesan ada di depan mataku dan aku siap untuk menapakinya. Rasa syukurku tak terbendung kepadaNya yang Maha Pencipta. Aku sungguh dibawaNya terbang melayang dengan semua yang ada. Oh Tuhan, inikah yang Kau namakan hidup yang tercukupi? Cukup cinta dan asa? Kalau lah iya, aku sungguh mendapat rejeki yang luar biasa.
Pertengahan November 2011
Keadaan berbalik..
Ternyata, bahagia yang kuraih beberapa hari dari awal November tidak bertahan lama. Keadaan berbalik. Berulang sesal, kesal, amarah, benci dan maki meliputiku, membawaku ke jauh ke perosok bagian hidup yang sangat menyakitkan. Aku tidak lagi bahagia. Kamu yang memulainya di pertengahan November ini. Kamu datang didepanku membawa luka. Luka yang teramat dalam. Kamu dan dia, kamu dengannya yang ternyata juga punya asmara. “Oh Tuhan, sudahkah hidupku berhenti sampai disini? “,tanyaku suatu hari tanpa jawaban. Aku mulai kalut, aku takut, dan aku mendapat sakit hati yang akut. Aku kehilangan penopang semangatku, aku kehilangan tempat tautan rindu dan aku mulai kehilanganmu. Aku sendiri (lagi).
Tak hanya kamu yang ‘merusak’ Novemberku. Semua harapan diatas jalan suksesku juga rusak oleh mereka yang kupanggil ‘sahabat’. Aku yang terlalu percaya. Aku yang terlalu rela untuk menerima. Semuanya hancur lebur, harapanku ikut terkubur. Tak ada lagi sukses dimataku. Tak ada lagi harapan untuk maju. Aku berhenti disini. Semangat ku hilang, jiwa penuh harapku ikut melayang. “ Oh, Tuhan, inikah tanda kiamat? “
Diatas cinta Ibuku..
Hari – hari yang panjang selama November. Bagiku. Aku yang terpuruk dan hidupku yang buruk. Aku yang terus berada dalam sesal dan kesal. Hingga ibuku datang dan membawa semangatku kembali terbang. Ibu dengan rautnya yang semakin senja, dan umurnya yang bertambah tua di November ini, berkata di sela tangisku, “Apa yang kamu tangisi, apa yang kamu sesali, takkan pernah kembali. Hadapi semua yang telah terjadi, perbaiki apa yang kamu salahi dan mulailah lagi semuanya dengan hati. Bukankah itu mudah untuk dipahami, anakku?” Kalimat dari ibu adalah obat mujarab bagiku. Aku mulai sadar dan aku berusaha tegar. Ternyata sedih dan duka bukan hanya aku yang rasa. Aku turut serta membawa ibu ke dalamnya. Ibu, satu – satunya orang tua yang kumiliki, ikut menanggung dukaku. Dan aku tak rela. Aku tak bisa melihat ibu ikut menderita. Tekadku pun bulat, aku akan teguh berbakti kepada ibu. Dan diatas cinta ibuku, segala macam usaha akan kulakukan untuk mengeringkan airmata nya, untuk melukiskan senyum diwajahnya dan untuk membuat ibu bisa berucap ”Mommy bangga atasmu Nak..”
Akhir November 2011
November mendewasakanku..
“…karena hidup itu tidak semulus rel kereta..” . Tidak ada bahagia tanpa derita dan tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan. Ya,aku mulai menyadarinya. Menyadari apa yang salah di hidupku, meluruskannya kembali dan melanjutkan masa depan. Seluruh kenyataan pahit dalam November ini menjadi tolak ukurku untuk menciptakan suatu kebahagiaan. Aku tak mau terus terpuruk dalam duka, aku mau bangkit dalam artian dewasa. Semua kejadian dalam November ini telah mengajarkanku bagaiman hidup itu bertahan dan berjuang, bagaimana kita bisa berucap syukur dan jangan pernah lelah untuk tersenyum. Semua itu sungguh mendewasakan pola pikirku.
“Don’t ask what the world needs. Ask what makes you come alive, and go do it. Because what the world needs is people who have come alive.”
-Howard Thurman-
Awal kebangkitan (ku)..
Disinilah aku, di akhir bulan November 2011 dan diawal kebangkitanku, aku terlahir dengan jiwa dan semangat baru. Aku tumbuh (lagi) dengan harapan tanpa haru, suatu pandangan yang lebih luas dalam menapaki lembaran jalan hidup.
Ak tak butuh (lagi) kamu, kamu yang hanya bisa mengobral cinta dan membayar dengan duka derita.
Ak tak butuh (lagi) ‘sahabat’ yang tak pernah tulus dan yang selalu berpikir untuk ‘menjatuhkanku’.
Ak tak butuh (lagi) janji dan omong kosong, aku hanya perlu bukti.
Ak tak butuh (lagi) sebuah ‘nama’ kalau masih saja diperdebatkan di akhirnya.
Yang ak butuh hanyalah ‘menjadi diriku sendiri’ dengan sifat apa adanya aku. Akan kubangun jalan suksesku dengan modal Percaya akan Tuhanku, doa dari Ibuku dan semangat serta kerja kerasku. Karena itulah caraku memaknai hidupku untuk kedepannya. Terimakasih.
“Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending.” -Maria Robinson-
GoodBye November, Welcome life – better ..
[ a fiction for NulisBuku's project : #GoodByeNovember ]