To: @priyapuccino
'Cinta itu semangat. Cinta itu perasaan yang lekat'
Mengenalmu, dahulu, tiga tahun yang lalu, membawa kenangan tersendiri buatku, kenangan biru tanpa pilu. Masih ingat jelas dalam ingatan, awal perjumpaan kita, di depan suatu ruangan, di lorong pojokan. Kita Berkenalan tanpa perantara dan lahirlah banyak cerita setelahnya. Kamu, aku, teman - teman kita, yang dengan hebatnya melahirkan sebuah romansa.
Masih ingat program camp disebuah desa dekat Magelang itu? Dari situlah aku memperhatikanmu. Tolong garis bawahi kata 'memperhatikan', belum lebih. :) teman - teman mu, teman - teman ku yang sekarang jadi teman - teman kita, memprovokasi mu dan aku dengan taktiknya, sehingga kita menjadi objek 'comblangan'. Saat itu kamu masih bersama pacarmu, dan aku masih dalam 'suatu kenangan'. Kita santai menghadapainya, menganggapnya lelucon belaka.
Waktu semakin tua dan belasan bahkan puluhan hari telah terlewati sejak camp itu. Kita semakin dekat. Melalui beberapa tempat nongkrong, cafe, objek wisata, bahkan kosku dan kosmu, aku semakin mengenalmu. Kata teman - teman kita, aku dan kamu punya banyak kemiripan dan kecocokan, menurutmu? Kalau kataku sih iya. Aku tak lagi susah untuk menebak apa maumu, karena apa yang kusuka kamu pasti juga akan menerima. Benar kan?
Menuju masalah cinta. Sampai saat ini pun aku tak tau, aku ke kamu waktu dulu itu suka, cinta, atau hanya rasa nyaman. Perasaan yang ada saat itu ibarat pepatah jawa, "tresno jalaran soko kulino". Ya itu persepsiku. Bagaimana tidak? Kalau kuingat dan kuitung lagi, setahun bersamamu saat itu, hampir tak ada seharipun yang kulewatkan tanpa ada kamu. Mulai dari sarapan, makan siang, makan malam, beli pulsa, bahkan hanya untuk fotocopy diujung gang kosku saja, aku harus denganmu. Bahagia ya masa - masa itu. Walau tanpa ikatan yang jelas, aku dan kamu tetap menghargai suatu garis yang tegas. Aku harus menahan rasa, yang-entah-mungkin-bisa-disebut-sebagai-rasa-cemburu, ketika kamu dengan santainya membawa cerita atau nama cewek lain di depanku. Apa itu untuk mengujiku? Terimakasih ya, kamu berhasil :p . Dan mungkin saat itu jg aku iseng membalasmu. Dengan ceritaku atau sikapku yang agak menyebalkan, aku sedikit berhasil membuatmu marah. Walau aku tak tau kamu marah untuk artian apa, tetapi aku menikmatinya. Wajahmu saat marah itu lucu! :)
Tanpa kepastian itu memang menyebalkan ya. Aku juga bosan menunggu, setahun buatku itu sudah cukup. Karena itu aku menjauh darimu. Aku mulai fokus dengan dunia kampusku. Kehidupan kampus sastra yang tidak kamu suka. Intensitas waktu bertemu kitapun lambat laun berkurang, jarang hingga sama sekali tidak pernah bertemu. Terimakasih kepada RIM yang telah menciptakan teknologi canggihnya untuk kembali memperhangat komunikasi kita. Walau tegur sapa disana hanya sebatas broadcast message atau 'apa kabar, aku kangen' ,itupun sudah cukup buatku saat ini. Untuk tahu kabarmu pun 'recent updates' cukup membantu. Sederhana kan? Saat ini, kalaupun kita bisa sampai bertemu dan kemudian terlibat dlaam suatu percakapan yang intens seperti taun - taun itu, aku menyebutnya luar biasa. Kapan ya kita terakhir ketemu? Oh iya, saat aku datang ke sidang kelulusanmu. Dua jam lebih aku menunggu mu keluar dari ruang keramat. Bosen sih, tetapi untungnya kamu kuliah dikampus yang banyak menawarkan wajah - wajah segar. :) Anyway, selamat ya udah menjadi S,T. Beberapa hari lagi bakal wisuda kan? Pasti kamu bahagia banget. Sayang, kita gak wisuda barengan, aku menyusul saja tahap berikutnya :p
Huh hah!
perjalanan cinta memang membawa berbagai macam cerita ya. Tawa, suka, duka, bahagia. Semuanya memakai hati. Untung aku punya banyak cadangan hati, rusak satu masih ada seribu :p
Hey, kamu! Aku harus apa memanggilmu sekarang? Kamu udah banyak berubah. Bagus sih, tetapi aku lebih suka kamu yang dulu. Kamu yang gak kebanyakan gaya, tetapi tetap mempesona. ;) Aku lebih suka memanggilmu 'buncit'. Suka gak suka aku tetap akan memanggilmu begitu :))
Eh, gimana rasanya dapat surat cinta dari aku? Bahagiakah kamu karena akhirnya kamu tau apa yang selama ini aku pikir tentangmu? Tentang yang dulu - dulu? Seharusnya sih surat ini aku tulis dan kirim ke kamu beberapa tahun yang lalu, biar tak terlalu membeku. Tetapi tak apalah, Tuhan selalu punya tinta tersendiri dalam menuliskan kisah hidup makhluknya. Termasuk kisah kita.
Dear kamu,
Kalau kamu baca surat ini, aku gak berharap ada reaksi yang berlebih. Aku cuma butuh emot titik dua kurung tutup. Aku cuma mau kamu tau kalau kamu pernah menjadi spesial di hidupku, dulu. Itu saja. Sampai jumpa!
Love,
~aku~
p.s : jangan pernah letih untuk menjadi 'bahagia', ya!