“BRAKKK!!”
Beberapa lembar file dokumen hard copy terpampar di meja kerjaku, diiringi tatapan garang dari si Bos.
“Berita macam apa ini? Kamu pikir kita ini wartawan majalah rohani, hah?” hardik si Bos.
Perlahan kuambil file dokumen tersebut. Sedikit gemetar tanganku memegangnya sambil tertunduk lesu. “Maaf Bos.”
“Maaf maaf maaf terus. Kamu pikir saya bisa bangun perusahaan ini pakai kata maaf?”
“Tapi saya punya alasan untuk ini Bos,” pelan – pelan kuangkat wajahku seraya membuka perlahan lembaran file dokumen yang telah kutulis tiga hari yang lalu itu.
“Pokoknya saya tidak mau tahu, seminggu lagi berita ini harus tersaji seperti yang saya mau atau kamu jangan pernah berharap untuk bisa menempati kursi itu lagi!” ancaman yang sangat ‘manusiawi’ dari si Bos sebelum beliau meninggalkan ku dengan umpatan khasnya.
“Setan!” Kubanting file dokumen yang kupegang dan segera kumatikan layar moniitor di depanku, kusambar tas punggung yang teronggok di bawah meja dan kularikan kakiku keluar dari ruangan ini. Entah kemana, yang penting keluar dari neraka ini.
***
Malam yang terang. Jutaan bintang sedang menari dengan indahnya di langit. Tetapi pikiranku tetap buram. Mataku hilang kekuatannya untuk membaca suasana sekitar. Kalut dan takut. Seribu perasaan hadir membuncah mengelilingi rongga jiwaku. Aku harus bagaimana? Lima jam lebih aku habiskan duduk disini, di meja kecil di sudut kamar di dekat jendela. Sejak mentari mulai terbenam, menghadirkan suasana senja, hingga langit menghitam membawa angin malam, tak jua kutemukan jawaban atas kekalutanku.
“Oh Tuhaaann..” tanpa sadar kugebrak meja di depanku sembari berdiri. Satu – satunya hal yang bisa menenangkanku saat ini adalah mengadu di nyamannya kasur biru di pojok ruangan. Kulangkahkan kaki ku serampangan menuju nya, tak ada lagi kekuatan yang bisa menopang. Segeranya, setelah kubisa menjamah benda ternyaman itu, kujatuhkan badanku dan kubenamkan kepalaku diantara tumpukan bantal dan selimut. Berharap ada sedikit mukjizat yang membuat semua ini hanya mimpi belaka. Harapan yang sia – sia.
Tertidur lagi
Masih menangis
Dalam sela waktu
Dan tanganku ini
Memegang erat kepalaku
Kepalaku …
***
“Pagi Ayah.” Kuturuni tangga demi tangga menuju meja makan dimana Ayahku sudah terlebih dahulu berada disana.
“Hey, Tam. Sudah bangun? Kau baik – baik aja kan?” sambut Ayah sedikit berteriak.
“Iya, cuma pusing sedikit kok semalam.” Jawabku sembari menarik salah satu kursi dan kemudian bersandar disana.
“Ayo sarapan. Ini ada nasi goreng kesukaanmu.”
Tersenyum. Senyum palsu. Kusendokkan nasi goreng ke atas piringku. Terlihat lezat. Namun masih adakah kata lezat untuk perasaan gundah seperti ini?
“Oiya, bisakah hari ini kau antar adikmu ke sekolahnya? Kebetulan ada acara apa gitu di sekolahnya. Ayah gak bisa datang hari ini karena harus keluar kota. Kau tak lagi sibuk kan?”
“Iya Yah, nanti Tami yang antar Tasya ke sekolahnya. Ayah pergi untuk berapa hari? Kemana?”
“Cuma ke Bandung, dua hari saja.” Jawab Ayah diiringi batuk kecil yang merupakan ciri khasnya.
“Ooo..” tak ada lagi semangatku di pagi ini.
“Yaudah, Ayah berangkat dulu ya. Jangan lupa ingetin Tasya untuk sarapan”
“Baik, Yah.” Kuraih tangannya, kucium dan kuantar beliau sampai di depan pintu, memasuki mobilnya dan hilang di ujung pagar.
Kuhela napas panjang. Sepanjang gelisah dan beban pikiranku yang tak menentu.
Semua yang membebaniku
Sungguh membebaniku…
***
“Kak Tami kenapa? Sakit?” Tanya gadis cantik di sampingku.
“Nggak kok, cuma lagi banyak kerjaan aja.” Kulirik sedikit adikku ini, kemudian kembali fokus ke jalanan di depan mata.
“Oiya kak, Ayah kemarin di datengin orang yang mukanya serem loh.” Lapor Tasya.
“Serius? Orangnya kayak gimana Tasy?” tanyaku tak sabar dengan tidak bisa menyembunyikan keterkejutan ini.
“Ya gitu deh kak, badannya gede - gede terus kalau ngomong kasar”
“Mmm. Mungkin temen lama nya Ayah.” Jawabku berusaha tenang.
“Tapi nakutin kak.” Tasya tak bisa menyembunyikan ketakutannya. “Oiya kak, kak Tami sayang Ayah gak?”
Hampir tersedak aku mendengar pertanyaan itu. “Jelas dong, kenapa kamu Tanya kayak gitu?”
“Nggak sih, ya kan sekarang kita cuma hidup bertiga setelah Ibu meninggal. Tasya takut aja kalau sewaktu – waktu Ayah juga pergi.”
DEG! Jantungku hampir copot. “Hushh, gak boleh bilang kayak gitu!”
“Hehe, iya. Maafin Tasya ya.”
“Eh udah sampai ni, yuk kamu siap – siap.”
“Oke kak.”
***
“Tam, makan yuk”
Kulongokkan kepalaku dari kubikel 2x2 ini demi melihat sang empunya suara. Ternyata Renny, sahabat baikku. “Eh elo Ren, bentar ah. Lo duluan aja”
“Lagi ngapain sih lo? Deadline lagi? Berita apa kali ini?” sahabatku itu kini berada tepat disampingku.
“Iya biasa, berita pejabat kelas atas.” Suaraku sedikit tercekat mengatakannya.
“Tam, gue tahu semua masalah lo, semua beban lo buat menyelesaikan berita kali ini. Tetapi satu hal yang harus lo ingat, kita ini bukan Tuhan, tidak berhak menghakimi mereka lewat berita yang kita tulis, tetapi kita wajib menyampaikan apa yang sebenarnya benarnya terjadi, jangan takut akan hal itu. Ini resiko yang harus kita ambil ketika pertama kali kita mendatangani kontrak kerja di tempat ini. Toh ini semua demi kebaikan kita bersama, terutama buat kehidupan lo.”
“Tapi Ren…”
“Taaam, lo harus inget kata pepatah, ‘Jangan pernah menutupi kejahatan di depan mata, sekalipun itu tentangmu dan akan menyakitkan’. Gue yakin lo pasti bisa melewati ini semua.”
Sedikit terdiamku akannya. Renny benar, gue pasti bisa. “Thanks ya Ren.” Kupeluk sahabat terbaikku ini.
***
“Tulis!”
“Nggak!”
“Tulis!”
”Nggak!”
“Tulii…”
“Arrgghh!” kututup dengan kasar layar laptop di depanku. Masih mencoba mengingkari gejolak batin yang berperang. Terlintas beberapa bayangan masa lalu di pikiran, kenangan akan masa – masa yang indah dan gambaran masa depan yang (mungkin) kelam.
Lemah tetap menari langkahku
Mencoba tetap berdiri
Ku menangis
“Gue harus tega!” kubuka kembali layar laptop di depanku. Dan mulai kususun kata demi kata, menulis sebuah berita sesuai keinginan si Bos diiringi tetesan airmata yang tiada henti mengalir. Apapun itu, semua harus berakhir. Aku harus tega!
Ku menangis
Masih tetap mencari jalanku
Memahami beban itu
***
Akhirnya saat ini datang juga. Saat – saat dimana aku menjadi anak yang durhaka.
Dengan linangan airmata kulepas kepergian Ayah dengan tangan terikat borgol dalam dekapan dua orang polisi. Ayah tertangkap kepolisian khusus setelah kasus korupsi nya selama bertahun – tahun kutulis dalam warta kriminal tempatku bekerja saat ini beberapa hari yang lalu dan kemudian tersebar luas di seluruh penjuru nasional. Beberapa media cetak dan elektronik ikut berlomba memberitakan hal itu hingga akhirnya penyidik kepolisian mengungkap kasusnya.
Memang mudah untukku mendapatkan semua berita tersebut karena sejak lama aku tahu Ayahku melakukan beberapa kecurangan finansial di perusahaannya dan beberapa lembaga terkait. Aku menguak semua ini bukan karena kau takut dipecat si Bos ataupun rasa tak tahu diriku yang telah diangkat Ayah dari panti asuhan dua puluh tahun yang lalu. Aku akui aku memang durhaka dan tak tahu terimakasih, tetapi aku tak bisa membiarkan kejahatan ada di depan mataku, walaupun itu Ayahku sendiri. Aku akan menerima segala macam resiko dari semua ini, yang penting Ayah bisa membayar semua kejahatannya dan aku serta adikku tidak tumbuh bersama harta yang haram. Sekarang ataupun nanti, aku ataupun orang lain, kasus korupsi Ayah ini akan jua terkuak. Lebih cepat lebih baik. Aku harus tega.
Kupeluk erat Tasya yang tak hentinya menangis dan tak lelah memanggil nama Ayah. Kini kami tinggal berdua. Ketakutan Tasya menjadi kenyataan. Beban terberat dalam kehidupan kami.
“Maafin kak Tami, Tasy. Maafin Tami, Yah. Semua ini demi kebaikan kita semua.”
***
*terinspirasi dari lagu Peterpan – Membebaniku*