“..kalau kamu percaya bahwa cinta itu bisa menembuhkan segala luka, jangan pernah takut untuk sakit hati..”
Hatiku memang bukan batu. Jiwaku bukan secuek patung pancoran, tetapi aku adalah pribadi yang teguh. Teguh akan apa yang aku suka, sesuatu yang aku bisa buatku bangga dan dia yang aku cinta. .
Dia, lelaki senja yang selalu aku damba. Perkenalan ku dengan nya di kala senja, aku jatuh cinta padanya ketika semburat senja merah larut dalam gelap malam dan dia memintaku mengisi hatinya ketika senja terakhir sebelum purnama. Bagiku, kisah kami ini lebih dari romantis, namun akhirnya harus berakhir tragis.
Dia, lelaki itu bernama Moggi. Sesosok sempurna yang pernah aku temui. Tampan, bersuara bagai kicauan surga, pintar akademisi dan berdarah ningrat. Sedangkan aku? Gadis dari kalangan biasa. Ayahku hanya seorang pegawai negeri sipil di kantor kotamadya dan ibu hanyalah penjaga warung pribadi di depan rumah. Aku anak bungsu dari dua bersaudara, kakakku telah lama meninggal sejak lima tahun yang lalu. Selama ini aku hidup dengan perasaan yang terpenjara, hati terluka dan jiwa yang terkekang, namun semua kepedihanku luluh ketika tangan hangat Moggi menjabat duniaku untuk kembali bangkit. Aku dan Moggi bagaikan langit merah dan bumi yang basah. Kami sangat tidak kontras. Namun senja lah yang mempertemukan kami dalam kehangatannya dan kepercayaan akan cinta yang sejati.
Setahun, dua tahun, hingga sebulan sebelum anniversary dua tahunan kami..
“ Tha, kamu percaya kalau cinta kita itu sejati? “tanya Moggi dengan mimik seriusnya
“Maksudnya? Kamu kenapa? Aku buat salah ke kamu? “ deg –degan aku menjawabnya
“Nggak, bukan itu . aku hanya ingin tahu, kalau seandainya aku ini jelek,miskin dan bukanlah seseorang yang pintar,apakah kamu tetap mau menjadi sandaran hatiku”
“Tentu saja! Kenapa tidak? Bukankah selama menjalani hari keindahan cinta kita ini aku tak pernah melihat apa dan siapa dirimu? Pernahkah aku meminta sesuatu yang berlebih kepadamu?”
“Tidak, tidak pernah. Tetapi aku rasa aku tidak bisa meneruskan semua ini. Kamu terlalu baik dan hanya akan membuatku semakin merasa bersalah. “
“bersalah akan apa?”
“Akuu,aku dulu bertaruh akanmu, namun aku terlanjur menikmati semua kebersamaan akan kita. Aku benar – benar menyayangimu selama ini. Tetapi ketika aku terpuruk dalam sendiriku, aku ingat akan taruhanku. Aku harus melepasmu,karena ada dia, gadis lain yang lebih pantas untuk kulindungi, untuk kukasihi. “
Hening. Berlinang air mata. Dan Senyum! “Siapa dia, Gi? Aku mengenalnya?”
“Dia Renata, sahabat baikku. Dia sedanga dalam penyakit kronis dan mungkin nyawanya tidak tertolong lagi. Dia kanker otak stadium lanjut, hidupnya dalam taruhan dan tiap harinya dia hanya bisa pasrah. Aku harus ada disana,memberikan dia semangat agar tetap bertahan. Aku meminta maaf, karena aku yakin kamu pasti lebih tabah dan kuat daripada Renata. Jadi kumohon, lepaskanlah aku.”
DEG! Penyakit itu. Kanker otak stadium lanjut. Hening. Kembali linangan air mata. Dan senyum lagi. “aku mengerti, tenanglah, aku tidak apa – apa. Pergilah kepadanya dan semangatilah dia”, sebuah kecupan di keningnya mengakhiri kisah kami, kisah cinta langit dan bumi dan kembali di kala senja. Aku meninggalkannya di ujung pantai ini, meninggalkan semua cinta kami, semua harapan akan masa depan indah dan meninggalkan dia untuk selamanya.
Lelaki senjaku, aku mengalah bukan berarti kalah. Aku rapuh tetapi tidak akan pernah mengeluh. Aku hanya tidak ingin ada lagi mereka yang merasa terluka dengan perasaan dan jiwa yang terkekang hanya karena kanker otak. Ya,kanker otak yang menggerogoti kakakku lima tahun lalu. Aku tahu bagaimana pedihnya.
Aaah sudahlah lelaki senja, aku bisa bangkit kembali tanpamu. Tidak ada senja, fajar pun cukup menghangatkan. Hati ku memang keras tetapi luas tak berbatas. Cinta tak hanya berakhir padamu.
*inspired by : “Jikustik – Tetap Percaya” *