We each need to make peace with our own memories. We have all done things that make us flinch.
~Surya Das~
"Jadi, gimana rasanya ketemu mantan yang udah nikah?"
Brengsek!
"Pasti seru ya, pasti lo spot jantung mulu tuh. HAHAHA!"
Lebih dari itu.
"Emang segitu dalemnya ya perasaan lo sama dia waktu itu?
Atuhlah. Kusesap kopi yang mulai dingin tetapi masih menyisakan kehangatan di cangkir yang kugenggam ini.
"Kurang seperti apa lagi dia menyakiti lo dengan pengkhianatan macam itu? Atau lo emang tipikal yang suka disakiti berlarut - larut?"
Lo gak tau aja gimana gue sayangnya sama dia. Kusesap lagi kopi di genggamanku. Rasanya masih sama, pahit!
"Dear, lo harus tau, bahwa hidup lo itu bukan sepenuhnya tentang dia. Sekali lo udah 'jatuh' karena masa lalu, udah, lupain! Toh seberapa kerasnya lo mencoba bangkit tetapi masih mikirin dia, ya sama aja!"
Siapa bilang melupakan itu semudah meninggalkan tapak kaki di hamparan pasir pantai? Masih kusesap kopiku yang tinggal setengah ini. Seberapapun butiran gula yang kumasukkan, kopi ini tetap pahit. Sepahit kenangan.
"Kenapa gak lo coba membangun suatu hubungan yang baru. Patah hati itu harus dilawan, bukan dipelihara"
Emang lo pikir gue mau gitu terus - terusan patah hati? Ditawarin gratisan paket 'patah hati unlimited' pun gak bakal gue ambil! Kali ini benar - benar kunikmati sisa satu perempat cairan kopi di genggamanku.
"Heh, ngelamun aja deh dari tadi! Gue ngajak ngobrol tembok nih! Sebuah gumpalan tissue membangkitkan naluri sadarku akan kepahitan itu.
"Udah ah, yuk balik. Ngantuk gue!" kuhabiskan sisa kepahitan di cangkirku dan ketarik lengan sahabatku ini untuk meninggalkan cafe ini. Menyisakan secangkir kenangan dalam kepahitan.
"Pokoknya lo harus lupain masa lalu lo itu, harus lo lupain!"
Siapa bilang melupakan itu harus benar - benar dilakukan?
The past is never dead, it is not even past.
~William Faulkner~
@30HariBercerita Hari ke-2