Jan 4, 2013

Kesatria Pendendam


Kerja. Bekerja. Memperkerjakan. Diperkerjakan.

Apa sih yang menjadi prioritas utama kalian dalam bekerja atau di dalam suatu pekerjaan? Gaji? Jabatan yang tinggi? Fasilitas dan jaringan klien? Kalau gue, passion!

Passion, atau gairah atau hasrat adalah modal utama gue dalam bekerja. Gimana bisa suatu pekerjaan berjalan dengan baik dan lancar bahkan sukses kalau gak ada passion di dalamnya. Karena itu, gue selalu pilah - memilah pekerjaan mana yang sekiranya cocok dan mampu buat gue kerjakan. Dan tentunya bukan suatu pekerjaan kantoran yang mengharuskan gue berangkat pagi dan pulang disaat jalanan macet. Bukan tipikal gue banget. :D

Gue mulai ikutan kerja rempong sana sini itu sekitar tahun 2009, disela selo-nya perkuliahan gue (iya, gue sendiri yang me-nyelo-kan diri :p). Mulai dari ikutan kepanitiaan kampus, panitia dan volunteer event, freelancer, penulis lepas, officer di event organizer, dan sampai sekarang alhamdulillah gue bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Mulai dari yang gratisan, dibayar dengan kaos dan id card sampai beneran dibayar pake duit dan pada akhirnya gue harus membayar orang yang bekerja sama gue, gue nikmatin semuanya. Gak ada tendesi apapun dari gue akan semua pekerjaan itu. Yang penting gue enjoy sama apa yang gue kerjain, dan kerjaan itu bermanfaat bagi sekitar gue, gue sih seneng - seneng aja. Tapi, sekarang gue lagi ada dalam posisi dimana gue benci banget sama kerjaan gue beberapa bulan yang lalu. Lebih tepatnya, gue nyesel telah membuang waktu dan energi gue untuk suatu pekerjaan (yang sebenarnya worth banget) yang sia - sia. Hanya karena apa? Karena kualitas ke-professionalitas dari perusahaan yang memperkerjakan gue dan sikap arogan dari petinggi perusahaan itu sendiri.

Jadi gini ceritanya,

Beberapa bulan yang lalu gue ikutan suatu tawaran kerjaan, apa itu kerjaannya gak akan gue sebutin, anggap aja kerjaan membatik. Gue ditawarin langsung kerjaan itu dari si Boss, dan langsung gue terima karena gue udah sering ikutan kerjaan begituan dan gue bukan orang baru yang ikut di dalamnya. Jadi, gue enjoy - enjoy aja sih ngejalanin kerjaan tersebut selama beberapa hari. Pada awalnya sih gue agak kaget ya, ketika tahu sedikit banyak sistem kerja nya berubah dari yang dulu - dulu, tapi gue tetep positive thinking aja karena passion gue ada disitu, dan gue gak mengharap apapun dari kerjaan itu (termasuk fee dsb) selain pengalaman kerja. Sehari dua hari tiga hari dst semuanya berjalan lancar dengan banyak cekcok sana sini. Iya, cekcok dalam team kerja sih. Okay, bisa dibilang bukan lancar 100%, tetapi untuk mencapai goal dari pekerjaan itu bisalah ya. Lepas dari cekcok dan embel - embel lainnya, yang perlu gue notice banget itu adalah sikap bossy dari sang pimpinan utama yang cenderung arogan dan menyampingkan serta meremehkan kemampuan officernya. Oke, dia si Boss, yang punya kuasa atas segalanya, tetapi dia tidak berhak men-judge kemampuan seseorang hanya dari penampilan semata. Salah satu kalimat dari si Boss yang paling menyakitkan buat gue adalah :

"Emang bisa apa sih lo, sarjana baru aja belagak. Modal apa lo bisa ngomong gitu untuk hal beginian?"

Kalimat tersebut terlontar disaat gue secara gak sengaja mengusulkan sesuatu disaat meeting. #JlebMoment banget buat gue! Ciyus! Pada saat itu dengan innocent dan sedikit plonga - plongo gue #iyainajadehbiarcepet omongan si Boss. Pada saat itu. Kalau sekarang gue pikir lagi, dengan banyak pertimbangan dan hasil kerja serta situasi seperti ini, gue cuma bisa teriak "Brengsek lo!". Gue bener - bener marah, benci dan berbagai macam perasaan kesal gue tak lagi terbendung. "Sial!"

Gue akui, si Boss merupakan tokoh yang sebenarnya gue kagumi dari dulu. Berhasil membangun perusahaannya sampai sebesar sekarang pasti tidak mudah dan gampang. Gue banyak belajar dari dia. Tokoh yang fenomenal. Tetapi kenapa gue marah? Karena pada akhirnya, gue yang menjadi korban disini. Gue yang susah payah kerja lembur tiap harinya, ngacir kesana sini, hanya dapet sindiran, nyinyiran, dan amarah si Boss aja. Dan GAK DIGAJI! Oke, disini gaji bukan prioritas utama gue, seperti yang udah gue utarain di awal. Tetapi kesininya, setelah tau gue bakal semenderita ini, dan diawal perjanjiannya bakal dapet gaji / fee blablabla serta gue juga ngajak anak orang untuk ikutan kerja (yang gajinya dibayar bareng gue), gimana gue gak marah coba? Ya kan? 

Jujur, kalau semisal gak ada perjanjian diawal kerja tentang per-gajian atau per-fee'an itupun gue bakal tetep ambil kerjaan ini. Balik lagi ke passion dan tujuan utama gue dari situ, gue pengen belajar. Belajar tentang membangun relativitas dan lain sebagainya. Gue yang urakan dan pecicilan serta semau-gue saat itu menjadi orang yang paling nrimo sedunia. Ngeiyain apa yang disuruh gue, ngerjain apa aja yang gue bisa, bantu sana sini dan berbagai macam hal babu lainnya. Gue memposisikan diri gue sama seperti orfficer lainnya (yang rata - rata merupakan orang baru). Mungkin dari situlah si Boss bahkan beberapa officer lainnya mulai meremehkan gue. Apalagui mereka bukan berasal dari Jogja. 

Masih sakit banget gue saat inget sindiran si Boss tentang "sarjana baru" itu. Pertama, karena gue belum sarjana (OKEFAIN, LUPAKAN!), kedua, karena sampai umur 23 th ini gue merasa udah banyak banget hal yang gue raih, dan ketiga karena gue juga saat ini sama posisinya seperti dia, Boss juga, untuk lapangan pekerjaan yang berbeda. Mungkin dari situlah harga diri gue merasa tertantang. Pengennya, saat itu gue jawab :

"Gini gini, jelek jelek gini, gue udah hampir keliling ke 12 negara, pernah dapet beberapa award yang lumayan keren, punya company sendiri dan alhamdulillah lumayan maju dan sekarang lagi belajar mimpin multi - company bokap gue! Mau apa lo?" 

Pengen banget gue jawab kayak gitu, tapi urung hanya sampai pangkal lidah. Gue gak sempat jawab karena gue tahu waktu itu posisinya gue ikut kerja sama orang dan gue harus follow semua sistem kerjanya. Kurang baik menderita apa gue? :'( Udah gitu sampai saat ini hanya gue yang gak digaji sama si boss. Entah karena alasan apa, yang pasti gue harus nge-gaji anak orang yang gue ajak kerja waktu itu (karena gue yang ngajak, dan dijanjiin bakal digaji juga sama si boss) pakai duit gue sendiri. Rugi bandar gue! Digaji kagak, tapi malah harus bayarin gaji orang. Damn! Kalau emang berakhir seperti ini, dan gue tahu dari awal kalau gue hanya dijadikan babu tanpa dihargai sama sekali, tentunya gue ogah ambil pekerjaan itu. 

I spent whole energy and time of mine just for something useless dan suck's things! 

Betapa berharganya waktu dan energy gue untuk pekerjaan itu yang sesungguhnya bisa gue manfaatin untuk hal lain. Dan disini, sampai saat ini, gue belum bisa berkata "yasudahlah" untuk permasalahan ini.

Kalau dibilang ikhlas, sampai pergantian tahun kemarin, sampai gue harus opname gegara thypus kambuh karena overload kerjaan dan mikirin hal menyakitkan itu, gue sih ikhlas gak digaji dan harus bayarin gaji orang. Karena duit bukan segalanya buat gue. Anggap aja gue dapet banyak ilmu baru dan untuk itu gue harus bayar, ya dengan waktu dan energy gue yang sia - sia. Hanya satu yang mengganjal dan masih gue tunggu sampai saat ini, konfirmasi dari si Boss itu sendiri. Minta maaf kek, nanya kek gimana gue pada akhirnya atau apapun itu, but nothing! Gak ada satupun kalimat permintaan maaf yang nyampai ke gue. Kalau dari saran temen - temen gue sih gue disuruh nanya ke si Boss. Cih! Ogah! Kenapa harus gue yang nanya. Kalu dia punya tangguung jawab pasti dia yang ngabarin gue. Udah segitu arogannya, segitu sombongnya si Boss, giliran urusan tanggung jawab aja dia gak peduli, GUE LEBIH GAK PEDULI! Biar aja si Boss gak malu sama sesumbaran dan sindiran - sindiran negatif nya. Terserah lah, itu urusan lo sama Tuhan lo sama kehidupan lo selanjutnya. Yang pasti gue udah ikhlas atas semua hak - hak gue yang lo ambil. Atas semua harga diri gue yang lo injak - injak dan atas semua pelajaran yang sangat berarti tentang "how to be a good boss" yang gue terima. Gue harus ikhlas sebagai seorang kesatria, tetapi maaf, gue terlahir sebagai seorang pendendam sejak masih di kandungan. Hal sepele semacam ini takkan terlupakan sampai kapanpun. Dan jadilah gue "Kesatria Pendendam" untuk saat ini. 



Dunkin - 4 Jan 2013, hujan yang tak kunjung henti dari siang
 dan segelas Green Bean Coollata. 



p.s : diakhir gue nulis ini sih, gue udah senyam - senyum sendiri :)


@30HariBercerita Hari ke-4