Pagi ini tidur lelap gue terusik, oleh teriakan dan beberapa dobrakan di pintu kamar, dari bokap.
"KAAAAAKKKKK, BANGUUUUNN KAAAKKKK! UDAH SIAAAAANNGGG!"
Damn! Baru juga jam 8! Setengah loncat dari kasur gue bergegas menuju pintu kamar dan mendapati wajah sumringah bokap berdiri sambil menenteng kunci mobil.
"Yuk sarapan yuk, Papa laper"
"Suruh Rian aja deh Pah yang beli, aku masih ngantuk!" elakku.
"Ogah ah, Papa mau makan di warungnya. Buruan mandi trus kita pergi. Anak gadis macam apa jam segini baru bangun, malu tuh sama Kartini!"
Yoi. Kalimat itu lagi. Selalu berhasil menampar penolakan gue. "Oke, sepuluh menit lagi, mandi dulu". Bergegas gue tutup pintu dan melangkah malas menuju kamar mandi. Huffttt ~
~~~
The power of the King, gue yang baru bisa memeluk guling jam 4 pagi dini hari kini dengan semangat terjajah harus udah siap 10 menit lagi untuk nemenin bokap sarapan bubur ayam jakarta favorit nya di jl. Mangkubumi itu. Hal yang sepele. Iya, hal yang sepele. Salah satu dari beberapa hal sepele yang sering banget di request bokap gue belakangan ini, beberapa bulan ini pasca pensiun. Hal - hal sepele yang dari sebuah permintaan sederhana, sebenarnya.
Udah hampir 10 bulan ini bokap gue pensiun dari pekerjaannya sebagai salah satu direksi di dinas perhubungan transportasi negara. Dan sudah 10 bulan belakangan ini juga bokap gue hobby banget travelling. Maksudnya sih pulang pergi Kalimantan - Jakarta - Jogja gitu tiap bulannya. Ya untuk ngurus usaha keluarga lah, untuk nemenin nyokap dan adek gue yang masih sma lah, ngecek rumah lah, untuk inspeksi gue dan adek gue di Jogja lah, gitu gitulah. Bukan beban berat buat gue sebenernya di inspeksi bokap tiap bulannya walau sebelumnya, beberapa tahun belakangan gue adalah single-fighter di Jogja ini. Dan dua tahun yang lalu akhirnya adek cowok gue ikut pindah ke Jogja dan kita hidup serumah, hanya berdua. Kehidupan sebagai anak rantau benar - benar kami jalani dengan berbagai macam tangis haru bahagia #halah. Sekarang, ketika Papa dengan banyak waktu luangnya rajin mengunjungi kami di Jogja ini, sedikit rasa 'aneh' menyelimuti kami, terutama gue. Kebebasan hidup anak rantau telah terjajah! Hahaa..
Bebas. Kebebasan. Menjadi bebas.
Disini yang gue maksud bukan bebas sebebas - bebasnya yang kemudian menjadi liar dan tidak tahu aturan. Bebas disini adalah bebas menjadi apa yang gue mau, seperti bebas bangun siang contohnya :D Dan kebebasan itu akan sedikit terganggu ketika bokap gue ada di Jogja. Ya seperti pagi ini, gue yang semaleman lembur deadline, baru tidur ketika muadzin bertugas dengan speakernya harus buru - buru bangun hanya untuk menemani bokap sarapan bubur. :') Gak ada yang salah sebenernya ketika bokap teriak - teriak di depan pintu kamar gue jam 8 pagi ini, gak salah, kalau gue bisa tidur maksimal jm 10 malam kemarin. Emang kodratnya sebagai perempuan itu bangun pagi, seharusnya. Tapi apalah daya, email dan makian si Boss lebih menakutkan buat gue daripada teriakan Papa pagi ini. All hail, pekerja deadline!
Bukan hanya bangun pagi yang sering menjadi masalah buat gue ketika bokap ada di Jogja. Masalah kerapian, masalah dapur (bokap gue maksa banget gue harus bisa masak), dan masalah jam malam. Iya, JAM MALAM! Semenjak kuliah gue emang sering 'menabrak' jam malam seorang manusia normal. Untuk mengerjakan tugas kuliah lah, nemenin temen yang baru putus cintalah, nongkrong hore lah, nonton event kece lah, lembur deadline lah, dan berbagai macam kegiatan ribet lainnya. Tapi percaya deh, kegiatan 'menabrak' jam malam itu selalu gue lakukan penuh tanggung jawab dengan tidak melakukan kegiatan kegiatan yang terlarang ;) Nah, semenjak ada bokap, jam malam gue berubah kembali seperti saat - saat gue masih duduk di bangku sekolah, maksimal jam 10 malam udah di rumah! Tragis! :')
Selain jam malam, masalah kerapian juga menjadi momok yang sangat menakutkan buat gue ketika bokap ada di Jogja. Mau gak mau, gue harus kerja extra keras membersihkan kamar gue yang lebih mirip disebut 'gudang barang bekas' itu di detik - detik kedatang an bokap gue ke Jogja, agar supaya bokap gue gak ngomel - ngomel tiap saat 'berkunjung' ke kamar gue dan melihat hamburan kertas, sandal, handuk bahkan handphone bertaburan di lantai. Gue emang males membersihkan kamar. Buat apa dibersihin, toh nanti juga kotor lagi. Lagipula, gue gak bakal semangat ngapa - ngapin ketika kamar gue jadi bersih, bawaannya pengen meluk guling mulu :D Ada sih pembantu rumah tangga disini, tetapi gue termasuk orang yang "i'll never let anyone to touch's everything's in my room, except for the urgent's things".
Lain masalah jam malam dan masalah kerapian, lain pula masalah dapur. Walaupun disini ada mbak - mbak yang biasa bantuin masak untuk sehari - hari nya, bokap gue selalu dan always nyuruh gue untuk bisa masak. GUE HARUS BISA MASAK! Pasalnya, bokap masih berpegang teguh dalam prinsip #MinangUnited dimana seorang cewek keturunan Minang harus bisa masak, baru pantas untuk diperistri (oke, gue boleh pindah warga negara gak nih?). Jadilah, tiap bokap gue datang, gue selalu disuruh ikut si mbak ke pasar untuk belanja sayur, kemudian disuruh masak ini itu tanpa bantuan si mbak dan lain sebagainya. Alhasil, beberapa bulan ini gue udah semakin ahli dalam hal memasak nasi goreng, tumis kangkung, tumis tempe, sop ayam dan mie goreng. Itupun dengan bantuan bumbu instan, tanpa sepengetahuan bokap tentunya :p Dan ujung - ujungnya gue pasti kesel. Karena bokap yang gak suka masakan gue, kemudian pada akhirnya ngajakin makan diluar / order masakan padang. MASAKAN PADANG, MEN! As always! Sia - sialah pengorbanan jemari robek gue karena pisau dapur :')
Terlepas dari itu semua, sesungguhnya dari hati gue yang terdalam, gue sangat bahagia ketika saat - saat ini bokap punya waktu yang luang untuk menemani keluarganya, mengunjungi gue dan adek gue di Jogja, tiap saat bisa selalu ada waktu untuk kami keluarganya. Hal yang sangat langka bisa kami dapatkan ketika bokap masih bertugas di kantor. Setengah hari bisa berada di rumah dan kumpul bersama keluarganya ketika Hari Raya itu aja udah sebuah mukjizat dari Tuhan untuk keluarga kami. Iya, bokap gue adalah seorang workaholic. Tiap saat dinas keluar kota, tiap saat lembur, berangkat pagi pulang malam dan berbagai atribut pegawai kantoran lainnya yang sangat gue benci itu. Jarang banget bokap punya waktu buat gue dan keluarga. Sebagian besar waktunya bokap habiskan dan dedikasikan untuk pekerjaannya (Jadi, pada tahulah ya kalau sekarang gue workaholic itu turunannya siapa). Jadi, ketika kini bokap lepas dari semua pekerjannya itu, sebuah anugerah besar dari Tuhan untuk kami yang harus sangat disyukuri, sebenernya.
Sebenernya, kalau saja situasi dan keadaan gue gak kayak gini. Gue lagi hectic - hecticnya dalam beberapa bidang kerjaan yang gue ambil. Lagi banyak banget yang harus gue pikirin, harus gue lakuin. Sementara bokap terus menuntut gue untuk 'gak pulang malem', 'harus bangun pagi', 'kamar harus rapi', harus bisa masak', 'blaaa blaaa blaaa'.. anyone please kill me! Gue terus terang stress berada di posisi saat ini.Capek kuartal tiga gue! Sumfah!
Bukan salah bokap juga sih atas 'kunjungan ke Jogja'nya. Toh rumah ini punya bokap, gue dan adek gue anaknya, dan sekarang bokap sedang merintis usaha warung makan-padang-nya yang butuh banget pengawasan ketat dari beliau. Huffftt ~ Serba salah, gue ada di posisi serba salah. Pasalnya, ketika gue lagi sibuk - sibuknya dengan kerjaan gue (I need more than 24 hours in a day), bokap selalu 'minta waktu' gue untuk melakukan request ajaibnya, ya seperti request spesial pagi ini, "minta ditemenin sarapan bubur ayam" inside ngantuk - ngantuknya gue yang baru tidur 4 jam ini :')
Hal yang sepele memang. Dan gue tahu, ini semua, yang bokap gue lakukan belakangan ini adalah 'pembayaran hutang' atas waktunya yang tersita selama puluhan tahun oleh pekerjaan. Gue lihat usaha mati - matian dari bokap untuk bisa kembali dekat kepada keluarganya, selalu ada waktu untuk keluarganya, memperhatikan setiap detail apa yang dibutuhkan anak - anaknya dan bokap berusaha memenuhi semua itu. Belakangan ini, gue sangat bahagia ketika beberapa kali jalan - jalan dengan bokap ke berbagai macam tempat wisata, belanja bareng, ngerjain proyek bareng atau apalah itu namanya. Tetapi gue juga sangat sebal ke bokap ketika disaat genting - genting di kerjaan gue bokap minta ditemani ke suatu tempat atau menyuruh gue melakukan ini itu. Beberapa kali gue tolak dan gue lihat ada kecewa disana. Duh, Papa, maaf, abisnya gimana lagi? Setelah itu pasti gue nyesel pernah menolak Papa kala itu ketika malam hari gue lihat Papa menjadi semakin tua dengan uban di pucuk - pucuk rambutnya tengah tertidur di sofa depan tv ruang keluarga. Lalu gue harus gimana? Oh Papa, maafkanlah anakmmu yang tidak selalu bisa menemani dan menuruti maumu ini. Tentu Papa mengerti karena apa. :(
LALU, GUE HARUS GIMANA?
Dewasa ini , waktu gue habis oleh usaha meraih masa depan yang gemilang. Sangat sedikit waktu yang gue punya untuk keluarga, untuk menemani Papa. Ingin rasanya gue kemballi menjadi anak kecil yang bebas tanpa beban hidup. Kalau boleh sombong, sebenarnya tanpa bekerja keras seperti ini, gue yakin bokap masih mampu menghidupi gue sampai kapanpun. tetapi sekali lagi, bekerja itu sebuah passion buat gue, bukan masalah nafkah. Itulah, hal yang sepele bisa menjadi sangat membebani seperti ini. Disatu sisi gue pengen menghabiskan waktu - waktu bersama bokap ketika beliau ada di Jogja sebagai 'tebusan' waktu yang terbuang masa lalu, tetapi disisi lain gue gak punya cukup waktu untuk itu karena kesibukan kerjaan, padahal gak tiap hari juga bokap ada di Jogja, maksimal dua minggu tiap bulannya :')
LALU, GUE HARUS APA?
................
................
GUE HARUS APA SEKARANG?
................
................
OIYA, GUE HARUS MANDI! GUE HARUS MANDI DAN NEMENIN PAPA SARAPAN BUBUR AYAM!
Udah lewat setengah jam ini gue mangkir dari janji mandi tadi. Gue harus bergegas sebelum ada teriakan lagi dari balik pintu!
Bye!
Udah hampir 10 bulan ini bokap gue pensiun dari pekerjaannya sebagai salah satu direksi di dinas perhubungan transportasi negara. Dan sudah 10 bulan belakangan ini juga bokap gue hobby banget travelling. Maksudnya sih pulang pergi Kalimantan - Jakarta - Jogja gitu tiap bulannya. Ya untuk ngurus usaha keluarga lah, untuk nemenin nyokap dan adek gue yang masih sma lah, ngecek rumah lah, untuk inspeksi gue dan adek gue di Jogja lah, gitu gitulah. Bukan beban berat buat gue sebenernya di inspeksi bokap tiap bulannya walau sebelumnya, beberapa tahun belakangan gue adalah single-fighter di Jogja ini. Dan dua tahun yang lalu akhirnya adek cowok gue ikut pindah ke Jogja dan kita hidup serumah, hanya berdua. Kehidupan sebagai anak rantau benar - benar kami jalani dengan berbagai macam tangis haru bahagia #halah. Sekarang, ketika Papa dengan banyak waktu luangnya rajin mengunjungi kami di Jogja ini, sedikit rasa 'aneh' menyelimuti kami, terutama gue. Kebebasan hidup anak rantau telah terjajah! Hahaa..
Bebas. Kebebasan. Menjadi bebas.
Disini yang gue maksud bukan bebas sebebas - bebasnya yang kemudian menjadi liar dan tidak tahu aturan. Bebas disini adalah bebas menjadi apa yang gue mau, seperti bebas bangun siang contohnya :D Dan kebebasan itu akan sedikit terganggu ketika bokap gue ada di Jogja. Ya seperti pagi ini, gue yang semaleman lembur deadline, baru tidur ketika muadzin bertugas dengan speakernya harus buru - buru bangun hanya untuk menemani bokap sarapan bubur. :') Gak ada yang salah sebenernya ketika bokap teriak - teriak di depan pintu kamar gue jam 8 pagi ini, gak salah, kalau gue bisa tidur maksimal jm 10 malam kemarin. Emang kodratnya sebagai perempuan itu bangun pagi, seharusnya. Tapi apalah daya, email dan makian si Boss lebih menakutkan buat gue daripada teriakan Papa pagi ini. All hail, pekerja deadline!
Bukan hanya bangun pagi yang sering menjadi masalah buat gue ketika bokap ada di Jogja. Masalah kerapian, masalah dapur (bokap gue maksa banget gue harus bisa masak), dan masalah jam malam. Iya, JAM MALAM! Semenjak kuliah gue emang sering 'menabrak' jam malam seorang manusia normal. Untuk mengerjakan tugas kuliah lah, nemenin temen yang baru putus cintalah, nongkrong hore lah, nonton event kece lah, lembur deadline lah, dan berbagai macam kegiatan ribet lainnya. Tapi percaya deh, kegiatan 'menabrak' jam malam itu selalu gue lakukan penuh tanggung jawab dengan tidak melakukan kegiatan kegiatan yang terlarang ;) Nah, semenjak ada bokap, jam malam gue berubah kembali seperti saat - saat gue masih duduk di bangku sekolah, maksimal jam 10 malam udah di rumah! Tragis! :')
Selain jam malam, masalah kerapian juga menjadi momok yang sangat menakutkan buat gue ketika bokap ada di Jogja. Mau gak mau, gue harus kerja extra keras membersihkan kamar gue yang lebih mirip disebut 'gudang barang bekas' itu di detik - detik kedatang an bokap gue ke Jogja, agar supaya bokap gue gak ngomel - ngomel tiap saat 'berkunjung' ke kamar gue dan melihat hamburan kertas, sandal, handuk bahkan handphone bertaburan di lantai. Gue emang males membersihkan kamar. Buat apa dibersihin, toh nanti juga kotor lagi. Lagipula, gue gak bakal semangat ngapa - ngapin ketika kamar gue jadi bersih, bawaannya pengen meluk guling mulu :D Ada sih pembantu rumah tangga disini, tetapi gue termasuk orang yang "i'll never let anyone to touch's everything's in my room, except for the urgent's things".
Lain masalah jam malam dan masalah kerapian, lain pula masalah dapur. Walaupun disini ada mbak - mbak yang biasa bantuin masak untuk sehari - hari nya, bokap gue selalu dan always nyuruh gue untuk bisa masak. GUE HARUS BISA MASAK! Pasalnya, bokap masih berpegang teguh dalam prinsip #MinangUnited dimana seorang cewek keturunan Minang harus bisa masak, baru pantas untuk diperistri (oke, gue boleh pindah warga negara gak nih?). Jadilah, tiap bokap gue datang, gue selalu disuruh ikut si mbak ke pasar untuk belanja sayur, kemudian disuruh masak ini itu tanpa bantuan si mbak dan lain sebagainya. Alhasil, beberapa bulan ini gue udah semakin ahli dalam hal memasak nasi goreng, tumis kangkung, tumis tempe, sop ayam dan mie goreng. Itupun dengan bantuan bumbu instan, tanpa sepengetahuan bokap tentunya :p Dan ujung - ujungnya gue pasti kesel. Karena bokap yang gak suka masakan gue, kemudian pada akhirnya ngajakin makan diluar / order masakan padang. MASAKAN PADANG, MEN! As always! Sia - sialah pengorbanan jemari robek gue karena pisau dapur :')
Terlepas dari itu semua, sesungguhnya dari hati gue yang terdalam, gue sangat bahagia ketika saat - saat ini bokap punya waktu yang luang untuk menemani keluarganya, mengunjungi gue dan adek gue di Jogja, tiap saat bisa selalu ada waktu untuk kami keluarganya. Hal yang sangat langka bisa kami dapatkan ketika bokap masih bertugas di kantor. Setengah hari bisa berada di rumah dan kumpul bersama keluarganya ketika Hari Raya itu aja udah sebuah mukjizat dari Tuhan untuk keluarga kami. Iya, bokap gue adalah seorang workaholic. Tiap saat dinas keluar kota, tiap saat lembur, berangkat pagi pulang malam dan berbagai atribut pegawai kantoran lainnya yang sangat gue benci itu. Jarang banget bokap punya waktu buat gue dan keluarga. Sebagian besar waktunya bokap habiskan dan dedikasikan untuk pekerjaannya (Jadi, pada tahulah ya kalau sekarang gue workaholic itu turunannya siapa). Jadi, ketika kini bokap lepas dari semua pekerjannya itu, sebuah anugerah besar dari Tuhan untuk kami yang harus sangat disyukuri, sebenernya.
Sebenernya, kalau saja situasi dan keadaan gue gak kayak gini. Gue lagi hectic - hecticnya dalam beberapa bidang kerjaan yang gue ambil. Lagi banyak banget yang harus gue pikirin, harus gue lakuin. Sementara bokap terus menuntut gue untuk 'gak pulang malem', 'harus bangun pagi', 'kamar harus rapi', harus bisa masak', 'blaaa blaaa blaaa'.. anyone please kill me! Gue terus terang stress berada di posisi saat ini.
Bukan salah bokap juga sih atas 'kunjungan ke Jogja'nya. Toh rumah ini punya bokap, gue dan adek gue anaknya, dan sekarang bokap sedang merintis usaha warung makan-padang-nya yang butuh banget pengawasan ketat dari beliau. Huffftt ~ Serba salah, gue ada di posisi serba salah. Pasalnya, ketika gue lagi sibuk - sibuknya dengan kerjaan gue (I need more than 24 hours in a day), bokap selalu 'minta waktu' gue untuk melakukan request ajaibnya, ya seperti request spesial pagi ini, "minta ditemenin sarapan bubur ayam" inside ngantuk - ngantuknya gue yang baru tidur 4 jam ini :')
Hal yang sepele memang. Dan gue tahu, ini semua, yang bokap gue lakukan belakangan ini adalah 'pembayaran hutang' atas waktunya yang tersita selama puluhan tahun oleh pekerjaan. Gue lihat usaha mati - matian dari bokap untuk bisa kembali dekat kepada keluarganya, selalu ada waktu untuk keluarganya, memperhatikan setiap detail apa yang dibutuhkan anak - anaknya dan bokap berusaha memenuhi semua itu. Belakangan ini, gue sangat bahagia ketika beberapa kali jalan - jalan dengan bokap ke berbagai macam tempat wisata, belanja bareng, ngerjain proyek bareng atau apalah itu namanya. Tetapi gue juga sangat sebal ke bokap ketika disaat genting - genting di kerjaan gue bokap minta ditemani ke suatu tempat atau menyuruh gue melakukan ini itu. Beberapa kali gue tolak dan gue lihat ada kecewa disana. Duh, Papa, maaf, abisnya gimana lagi? Setelah itu pasti gue nyesel pernah menolak Papa kala itu ketika malam hari gue lihat Papa menjadi semakin tua dengan uban di pucuk - pucuk rambutnya tengah tertidur di sofa depan tv ruang keluarga. Lalu gue harus gimana? Oh Papa, maafkanlah anakmmu yang tidak selalu bisa menemani dan menuruti maumu ini. Tentu Papa mengerti karena apa. :(
LALU, GUE HARUS GIMANA?
Dewasa ini , waktu gue habis oleh usaha meraih masa depan yang gemilang. Sangat sedikit waktu yang gue punya untuk keluarga, untuk menemani Papa. Ingin rasanya gue kemballi menjadi anak kecil yang bebas tanpa beban hidup. Kalau boleh sombong, sebenarnya tanpa bekerja keras seperti ini, gue yakin bokap masih mampu menghidupi gue sampai kapanpun. tetapi sekali lagi, bekerja itu sebuah passion buat gue, bukan masalah nafkah. Itulah, hal yang sepele bisa menjadi sangat membebani seperti ini. Disatu sisi gue pengen menghabiskan waktu - waktu bersama bokap ketika beliau ada di Jogja sebagai 'tebusan' waktu yang terbuang masa lalu, tetapi disisi lain gue gak punya cukup waktu untuk itu karena kesibukan kerjaan, padahal gak tiap hari juga bokap ada di Jogja, maksimal dua minggu tiap bulannya :')
LALU, GUE HARUS APA?
................
................
GUE HARUS APA SEKARANG?
................
................
OIYA, GUE HARUS MANDI! GUE HARUS MANDI DAN NEMENIN PAPA SARAPAN BUBUR AYAM!
Udah lewat setengah jam ini gue mangkir dari janji mandi tadi. Gue harus bergegas sebelum ada teriakan lagi dari balik pintu!
Bye!
@30HariBercerita Hari ke-7