“We fell in love, despite our differences, and once we did, something rare and beautiful was created. For me, love like that has only happened once, and that's why every minute we spent together has been seared in my memory. I'll never forget a single moment of it.”
― Nicholas Sparks, The Notebook
Kalau udah cinta mau apa?
Kalau udah sayang masa harus dilarang?
Kenapa kalau beda agama? Toh bukannya cinta juga merupakan latihan dari ‘percaya’ dan ‘keyakinan’?
8.00 PM, disudut cafe sebuah mall.
Gue baru aja nonton sebuah film, “Cinta Tapi Beda”. Ya, film yang lagi fenomenal itu, yang menuai banyak kontroversi dan kritik pedas. Disini, gue nggak akan mempermasalahkan itu semua. Karena pada dasarnya, gue gak terlalu tertarik membicarakan hal – hal lain selain isi cerita dari film itu sendiri. Aspek - aspek luar yang kontroversional gak bakal mempengaruhi gue buat suka film ini. Terserahlah mau si penulis skenarionya tukang copas tweet orang, si sutradara sengaja ‘menabrak’ jalur untuk mendobrak penjualan film, isinya menyinggung adat istiadat suatu suku dan agama tertentu, dan lain sebagainya, gue gak terlalu peduli. Toh gue disini gak akan mereview film tersebut dari sisi – sisi perfilm’an dan sudut pandang penonton. Karena disini, gue akan curhat tentang gue berdasarkan judul dan garis besar cerita film tersebut. Cinta Tapi Beda. . . JRENG JRENG!!
Cinta Tapi Beda.
Yang menjadi perbedaan disini dalam cinta tersebut adalah Agama dan Keyakinan. Oh, My!
Gue banget. Iya gue banget. Kisah percintaan gue banget. Untuk saat ini.
Gue, seorang Muslim yang sedang menjalin suatu hubungan kisah kasih dengan seorang Nasrani. Udah beda agama, LDR pula! Oh, Shit!
Kejadiannya beberapa bulan yang lalu,
Ketika saat itu gue tertarik dengan salah satu partner kerja gue di suatu project kerjaan. Iya, sebut aja cinlok. Dan sungguh mulia sang dewa cupid yang tidak diam dengan perasaan gue ini, yang dengan segala kekuatan kisah kasihnya menghantar perasaan gue ke cowok yang juga mempunyai perasaan yang sama kayak gue. Cinta itu tak bertepuk sebelah tangan. Kami disatukan dalam suatu komitmen yang dalam. Cinta? Entah apalah namanya yang pasti gue selalu tersenyum mendengarnya.
Sebuat saja cowok itu ‘hero’. Aneh? Biarin!
Cowok itu, kekasih gue saat ini, benar – benar seorang ‘hero’ buat gue. Dia yang telah berhasil mengobati segala kekecewaan gue (yang waktu itu sedang hancur – hancurnya ketika harus bertemu lagi dengan seseorang di masa lalu yang kini telah berstatus baru, suami orang. OKEFAIN! GAK USAH DIBAHAS LAGI!) dengan semua tindakan manis dan kesabaran maha sabarnya dia. Bukankan pantas untuknya menyandang predikat sebagai seorang pahlawan? ‘My Hero’? Iyain aja.
'My Hero', seorang dokter, seorang pekerja serius, pemeluk agama Katolik. Sedangkan gue pekerja lapangan, gak pernah serius bahkan pecicilan, seorang Muslim. Ada yang salah dengan kisah kasih yang kami jalani? Mungkin iya, buat nyokap gue, buat khalayak pada umumnya. Tapi menurut gue, ini sah – sah saja, mungkin pada saat ini. Karena ini kisah cinta, bukan tindakan kriminal. Tidak perlu dianggap serius, tolong jangan dihakimi. :’)
Menjalin suatu hubungan percintaan dengan lawan jenis yang berbeda agama dan latar belakang bukanlah hal pertama yang gue jalani. Dulu, semasa gue masih berseragam putih abu – abu maupun ketika gue masih berstatus mahasiswa unyu, gue sering dapet pacar yang beda agama. Tentunya kisah – kisah tersebut diluar pengawasan nyokap gue, seorang priyayi jawa yang jelas – jelas menentang hubungan beda agama. Dulu aja pernah gue ketauan pacaran sama seorang cowok band yang beragama Hindu dan gue dihukum gak bakalan dikasih uang jajan sebelum putus dari cowok itu. Jahat ya? :’)
Terus terang, bukannya gue gak mau nurutin apa petuah nyokap, bukannya gue orang yang selalu melanggar dan seenaknya sendiri, tapi gue termasuk seseorang yang selalu dibutakan oleh cinta, tetapi tentu saja dengan tidak melanggar norma – norma yang berlaku. Jadi, selama gue beneran cinta sama seseorang, dan dia-nya juga sama ke gue, segala macam perbedaan bakal gue libas. Tapi tenang, ini kan baru pacaran, baru tahap mengenal banyak lawan jenis untuk pada akhirnya menentukan salah satu yang tepat, yang nantinya bakal jadi ‘imam’ di masa depan gue. Dan tentunya dia juga harus berkeyakinan sama seperti, memeluk agama yang sama seperti gue, bahkan kalau bisa, dia lebih hebat ‘agama’nya daripada gue. Belum sekalipun hingga saat ini gue bermimpi untuk mempunyai pendamping masa depan yang berbeda keyakinan. :)
Itulah, karena itulah. Lewat film “Cinta Tapi Beda” ini, sebuah ketakutan besar dan pemikiran yang tidak – tidak menghampiri gue. Bagaimana kalau misalnya si 'My Hero' ini memang jodoh yang Tuhan siapkan buat gue? Bagaimana mungkin gue bisa melibas semua perbedaan yang ada diantara kami? Bagaimana mungkin bila iya, nantinya, gue bakal ngecewain nyokap dan keluarga besar gue? Itulah mengapa, sepanjang pemutaran film tersebut, perasaan gue terkoyak – koyak hingga sedikit terisak. Bukan, bukan karena isi dari film itu, bukan karena cerita film itu yang bagus, tetapi lebih karena tamparan - tamparan kecil di jalan cerita film itu telah melempar gue ke angkasa ketujuh dengan kisah yang sekarang sedang gue jalanin. Lewat film ini, gue jadi banyak mikir, gue jadi mengkhayal bagaimana seandainya gue dan ‘My Hero’ benar – benar jatuh cinta yang dalam, bukan lagi cinta yang dangkal dan pada akhirnya kita harus terpisah karena hal yang benar – benar krusial. Terus terang, gue gak bakal sanggup untuk patah hati lagi. Gue capek berada di titik jenuh dimana sebuah kisah cinta bisa menghancurkan waktu – waktu berharga gue.
Mungkin, terlalu dini untuk saat ini ketika gue harus menyatakan bahwa gue dan ‘my hero’ benar – benar tak terpisahkan. Kisah kami bahkan masih bisa dihitung oleh perputaran hari. Kisah kami masih sebatas rasa saling memilik dan tak saling menjaga dengan kaidah cinta yang hakiki. Dalam kisah ini, kami berdua pun tahu batas - batas dimana perbedaan diantara kami itu tidak bisa dilindas. Kami tetap menghormati keyakinan satu sama lain. Kami sedang berusaha menjalani hari dengan sesuatu kisah yang berarti, tidak dengan kekalutan akan kehilangan. Kami sedang mencoba hal itu dengan tidak menjadi hakim bagi peradilan cinta, karena cinta memang tak pernah salah.
Namun ketakutan itu tetap ada. Ketakutan akan perbedaan, ketakutan akan kehilangan. Dan sebisa mungkin untuk saat ini gue menjadi ‘normal’ untuk melupakan sejenak ketakutan - ketakutan tersebut. Gue bakal sebisa mungkin menjalani kisah ini dengan santai, gue cinta dia dan dia juga gak bakal ngecewain gue. Anggap saja ini latihan bagi kita untuk menjadi seseorang pasangan yang baik, entah bagi siapa nantinya,entah di masa depan kami bisa disatukan atau harus terpaksa dipisahkan.
Kami memang berbeda, lantas kenapa?
Tidak. Tidak usah memberikan jawaban atas pertanyaan diatas. Jangan Pernah!
Lalu, untuk kedepannya gimana?
Semoga nyokap gue gak tau kalau kali ini gue (lagi – lagi) pacaran dengan ‘yang berbeda’. Itu aja! :D
May the gods stand between you and death in all of the dark places where you must walk.
― Ancient Egyptian Blessing
@30HariBercerita Hari ke-8