Feb 8, 2014

Mari Tuntaskan Penasaran

Dear, Rena.
Aku menulis surat ini di penghujung senja yang redup dan sedikit mendung diiringi rintik hujan dari jendela kantorku. Hari ini aku tidak berminat untuk segera pulang walaupun rutinitas disini telah selesai dua jam yang lalu. Aku menikmati saat-saat seperti ini, sendiri dan sunyi yang membuatku bebas memikirkan banyak hal. Dan saat ini aku tengah memikirkanmu.

Dear, Rena.
Aku adalah lelaki yang suka akan tantangan walaupun aku tidak terlalu menyukai teka-teki permainan. Dan untuk mengenalmu lebih dalam adalah tantangan baru bagiku. Bagaimana surat hingga namamu singgah di hariku belakangan ini sungguhlah misteri yang mengusikku. Namun aku tak terlampau peduli, baik itu secara kebetulan atau memang takdirku untuk mengenalmu, terlebih tentang masa lalumu yang kau sebut Fahri, itu tak penting bagiku.

Dear, Rena.
Bercerita adalah salah satu kekurangan bagiku. Aku tak bisa dengan lantangnya untuk memulai suatu obrolan kecuali kau pancing aku lebih dahulu, itulah mengapa aku sering merasa kesepian. Banyak hal yang sebenarnya ingin kuutarakan kepada orang-orang di sekelilingku, namun aku tidak terlalu mempercayai mereka sebagai pendengar yang baik. Aku takut mereka akan menjadi racun bagi jiwaku ketika apa yang kuceritakan hanya akan menjadi putaran bola yang menjadi kurang dan lebih di setiap telinga yang mendengarnya. Dan ketika kau katakan bahwa sosokmu adalah perempuan yang tak lepas dari drama, akupun menjadi sedikit ragu. Benarkah seperti itu? Benarkah setiap perempuan tercipta dengan sisi drama yang kuat dalam hidupnya?

Dear, Rena.
Apakah kau menyukai kopi dan kawan-kawannya? Bagiku, kopi adalah nyawa, yang tanpanya, hidupku hanyalah robot tanpa jiwa. Dalam sehari paling tidak aku menghabiskan tiga cangkir kopi dengan berbagai macam seduhan ditengah rutinitas kerja dan di penghujung malamku. Lalu, bagaimana seandainya kita bertemu dan tuntaskan semua penasaranku atasmu di hadapan secangkir kopi di sebuah kafe favoritku yang berada di tengah kota. Aku tau kau dan aku berada di kota yang sama dan tentunya akan mudah bagi kita untuk saling bersua. Disana, nantinya, aku ingin melihatmu secara nyata yang tak lagi hanya sebatas menerka-nerka lewat surat seperti. Mari jadwalkan!

Regards,
-Radit