Feb 1, 2014

Sesuatu Yang Rapuh

Terkadang, kita tidak tahu kapan saat yang tepat untuk jatuh cinta.

Dan seringnya, kita tidak bisa memilih kepada apa dan siapa kita jatuh cinta.

Sebuah kejutan. Yang bisa berujung kekecewaan.  Jatuh cinta.


Untuk lelaki di sudut senja,

Entah harus kumulai dari mana, entah aku harus berdrama seperti apa. Pastinya, kamulah subyek utama dalam kisah-yang-tak-kuingin-ini-menjadi-nyata.

Lelaki di sudut senja,

Pagi ini dingin membekukan pikirku. Pagi ini dingin menyergap dan memenjarakan akal sehatku. Aku tak lagi bisa menghitung berapa bintang berkilau yang tengah bermain di sudut mataku. Aku linglung. Aku limbung. Ada sudut hati yang tengah membiru karena cemburu, ada bias ungu di tengah cinta yang menggebu. Kamu harus tau itu.

Lelaki di sudut senja,

Pernahkah sekali saja kau amati bagaimana langit biru bisa menjadi kelabu? Ataukah sejenak kau bertanya mengapa temaram tiba-tiba menjadi redup dan tergantikan oleh cahaya kelam? Bisa kupastikan, kamu tidak akan pernah melakukan itu. Kamu tidak akan pernah sekalipun peduli, sebagaimana kamu selalu berlari dari kecewa yang tengah kurawat sendiri.

Lelaki di sudut senja,

Aku tak pernah ingin kau datang padaku sebagai seorang peri. Datanglah kepadaku sebagai puisi. Karena puisi mampu mengajakku bernanyi dalam lirih yang sepi, rindu yang sunyi dan malam-malam yang penuh patah hati. Mampukah kamu? Aku tunggu.

-@lionychan